Tukang Nasi Padang Kesel
Waktu sudah menunjukan hampir pukul 12 siang, kami mulai merasa lapar setelah kejadian potong pohon ceris yang dramatis dan sangat tidak cerdas itu. Kami bergegas tancap gas menuju sebuah awarung yang ada di depan jalan Desa.
2 Motor kami kendarai karena kami bertiga. Kami Melewati jalan desa yang terlalu mulus sampai-sampai bisa dipakai untuk kejuaraan Moto Cross. Sampailah kami di Ruko-ruko kecil yang berjajar dari barat daya ke tenggara, di situ terdapat Rumah Makan Padang yang satu zatunya di desa tersebut, ada lagi sih cuman jaraknya lebih dari 7 km. Biasanya indikator suatu daerah itu mulai berkembang dengan adanya Rumah Makan Padang yang sudah mulai banyak dan jaraknya mulai berdekatan. Nah ini seiring dengan daya beli masyarakat yang mulai meningkat soal kebutuhan pangan dan kepraktisan dalam mengisi kekosongan perut.
Hal kekosongan perut ini berlaku untuk saya, teman saya Wendi dan Fajrul. Kami mumutuskan untuk membeli ke Rumah Makan Padang. Kami juga memikirkan sebuah misteri yang hanya ada di Rumah Makan Padang, misteri tersebut adalah saat kita makan ditempat nasi sedikit dan sebaliknya saat dibungkus atau take away nasi begitu banyak, mungkin ini tradisi, atau ada sejarahnya? Dan ini masih menjadi misteri untuk kami. Dari misteri tersebut kami memutuskan untuk makan dibungkus saja, agar nasinya banyak dan perut kenyang.
"Pesen apa ini?" Kata Uda Penjual Nasi Padang
"Rendang satung Da! Lu apa Jrur Wen?" Tanya saya
"Saya ayam bakar." Jawab Wendi
"Saya Ikan Cue aja biar gak daging-dagingan terus" jawab Fajrur
"Mau dibungkus atau makan disini?" Tanya Uda
Wendi tiba-tiba noel saya dan berbisik
"Mas Jek, mending dibungkus aja nasinya lebih banyak!"
Dalam hati saya bener juga ya pendapat wendi.
"Dibungkus aja Da!" Jawab saya lantang
"Baik pak."
Dengan cekatan tangan Uda Penjual nasi padang membungkus semua pesanan rapih, takurang satupun bumbu pelezat asli Padang yang bunat kami semakin bergaira untuk menyantapnya, bau semerbak khasnya semakin membuat lidah kami menelan ludah, tak sabar untuk menyantapnya. Dalam waktu kurang dari 5 menit semua bungkusan sudah siap. Tiba waktunya kami bayar.
"Barapa Uda?" Tanya saya
"36 ribu saja."
Makanan sudah ditangan kami siap untuk melangkah pulang. Namun disisi lain langit seakan tak merestui kami pulang. Begitu cepatnya cuaca berubah, Hujan lebat turun dengan cepat. Kami tak bisa melawan cuaca, kami hanya bisa menunggu reda di Rumah Makan Padang tersebut. Tapi perut kami yang sudah mulai ngerock (Keroncongan) tak bisa ditahan oleh hujan. Disini kami harus memutuskan untuk makan ditempat dengan agak sedikit gengsi, tapi perut terus meronta-ronta kelaparan.
Dan akhirnya kami putuskan untuk makan ditempat, walau nasi sudah dibungkus. Penjual nasi Padang pun
0 Response to "Tukang Nasi Padang Kesel"
Post a Comment