DEMOKRASI TANPA SUARA


Rapot sampul biru telah dibagikan. Wali murid berjubel terus memegang, melihat, dan memperhatikan dengan seksama hasil belajar kami pada sumester 4. Kini tiba saatnya mencicipi bangku baru, naik satu tingkat lagi pencapai belajar, kelas 3 atau 12. Dimana kami dipertahankan dari point-point pelanggaran. Dimana kami digembleng dengan konsen belajar. Dimana ekskul tak lagi menjadi prioritas lagi untuk berkarya. Hanya buku, buku, dan buku. Kesempatan ini menjadi momok penting bagi elemen sekolah kami. Sehingga euforia dari mereka yang membabibuta pada belajar, haus akan ilmu. Situasi ini bukan momok yang menakutkan bagi kami penghuni kelas 3 MM (Multimedia), hanyalah kebersamaan prioritas utama.

Hari ini kelas baru mulai kami kuasai, ruang bertuliskan angka 16, lantai keramik putih sedikit noda-noda sepatu menjadi pijakan kami sekarang, para pencari ilmu, Multimedia Generasi 5. Ruang ex atau mantan digunakan kakak kelas Akuntasi sekarang dihibahkan pada kami walau tidak tetap, Maklum moving class, jadi bukan menetap. Pasalnya SMK kami telah menambah lagi armada program keahlian baru, dan asupan kelaspun belum memadahi.

Jarum jam panjang berdiri tegak pada angka 12, si pendek menunjuk ke angka 7. Kelas mulai beroprasi, kami masuk bak sapi yang menuju kandang siap untuk menerima sarapan pagi dengan pelajaran. Aku duduk diperaduan bangku nomer 3 dari 5  deret ke belakang serta paling kanan. Aku bersebelahan dengan kawanku Fith lebih akrab dipanggil Rondo.

Bel jam pertama berdentang nyaring. semangat baru, kelas baru, tingkatan baru pula. Kami puas bisa naik ke jenjang akhir. Sebab aku pernah mendengar isue bahwa ada yang harus menerima ancaman tinggal kelas. Tapi semua itu hanya issue. Apakah itu strategi dari bapak-ibu guru sebagai cambuk bagi kami agar  lebih baik lagi untuk belajar. Kali ini pelajaran Agama Islam, Bu Amila pengajarnya. Beliau sekaligus merangakap menjadi wali kelas kami. Senyum yang ramah nan wibawah mengiring beliau memasuki ruang kami.

Assalamualikum warahmatullahiwabarokatu,
“Walaikumsalam warahmatullahiwabarokatu” kegaduhan berubah menjadi keheningan sekaligus sebagai kunci mulut-mulut yang menganga dengan celotehnya.
“Anak-anak semua. Sebelum kita mulai pelajaran kali ini. dipimpin berdo’a duhulu!”

Aku memandang kearah handy memberi isyarat untuk berdo’a.
“ssttt….”
Handy langsung tanggap dengan isyarat kecil itu.
Attention please! Before we study. Well, let’s pray together. Start!
Kami khitmat bedo’a memohon agar dibukan pintu kemudahan untuk menerima pelajaran tanpa hambatan untuk hari ini nan esok, serta guru ikhlash,murid ikhlas insyaallah ilmu tersampaikan.
finish!
Kawan-kawanku mengusap wajah mereka yang siap memerima ilmu. Bu Amila langsung menyegarkan pagi dengan semangatnya. Terlihat kilatan terang dari kaca mata tipis nan trendynya, beliau memberi sarapan pagi dengan ucapan selamat atas keberhasilan kami meraih tinggkatan terakhir ini. Lantunan-lantunan kedekatan muncul dari buah bibir beliau, kerena beliau yang menjadi ibu kami, 36bintang Pelangi 5.

“Anak-anakku, hari ini kalian telah resmi menjadi murid kelas 3 atau 12, dimana kalian tahu. Kalian memegang kasta tertinggi disekolah ini sebagai murid. Tentu saja merupakan kabar gembira serta hal yang berat. Kalian mempunyai tugas lebih dari sebelum tingkatan lalu. Salah satu diantaranya kalian menjadi contoh adik-adik kelas. Maka dari itu akhlak harus ditanamkan dalam diri kalian. Saat ini kalian kalian harus mengatur strategi menuju medan pertempuran yaitu UAN. Kalian harus mengerahkan kemampuan belajar intensif. Tentara saja masih berlatih tiap hari walau negara tidak teramcam. Apalagi kalian? Maka harus bisa terus berlatih. Nah, disitu takdir kalian ditentukan oleh kalian sendiri, karena Allah telah berfirman dalam surat Al-Rad ayat 11 sebagaimana berikut : ‘Sungguh Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum hingga meraka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.’ oleh sebab itu anak-anaku, dari firman Allah tersebut, kalian sendirilah yang harus menentukan masa depan kalian sendiri.” Bu Amila mengapalan tangannya diudara penuh semangat.

Kawanku memahami dengan seksama, dan air mukanya penuh keyakinan formula tinggi. Kami harus memulai dari sekarang juga, memang salah jika mulai sekarang, seharus mulai sejak awal masuk, tapi tak ada kata terlambat bagi kami. Kami mungkin terlena dengan nikmatnya masa-masa diperaduan kelas 2. Aku tahu kelas 3 bukan waktu yang panjang untuk santai-santai. Karena kami hanya memiliki waktu 8 bulan. Aku yakin dengan segenap kemampuan berusaha, berdo’a, dan bertawakal semua akan tercapai. Seperti yang pernah aku baca dari buku yang fenomenal karya Andre Hirata “bermimpilah maka Tuhanmu akan memeluk mimpi-mimpimu”. Bu Amila telah membakar semangat kami dengan ayat-ayat al-qur’an tadi. Pesan itu merasuk dalam hati kami bersatu dengan dengan darah mengelir deras keseluruh tubuh kami. Bu Amila tersenyum tipis 5 centimeter menatap keseruh sudut kelas.

Eko yang begitu pendiam tampak terkesima, mulutnya masih menganga kagum. Kilatan mata Bu Amila kembali menerawang keseluruh kelas untuk mengecek kehadiran kami dikelas pertama awal semester 5. Disebutlah satu-persatu nama sembari beliau hafalkan pula raut wajah pemilik nama tersebut. Wajah kami unik-unik yang mungkin membuat beliau rela menjadi wali kelas kami. Tangan terangakat mulai dari pemilik mana berinisial a sampai dengan z.

“Wahyu Kus Alfian.” Suara Bu Amila lembut menggema.

Fian menganngkat tangannya, yang membuatnya tampak seperti WTC di Amerika sebelum terbrak oleh pesawat Afganistan. Bu Amila mengangukan kepala. Entah kenapa Alfian sangat mudah sekali dikenal oleh setiap guru di SMK, bahkan antero SMKN 1 Lumajang mengenalnya mulai dari Mas Eko tukang kebun, Mr. Dri guru bahasa Inggris, sampai Pak Yo Satpam sekalipun akrab denganya. Mungkin badannya yang tinggi dan paling tinggi diantara lainya. Dan kerana badan tingginya itulah sejak SMP dijuluki dengan nama Kuteng alias kepanjangan dari Kurus Seteng, seteng arti Indonesianya sebuah gala. Jam pertama usai, bel berdentang keras seperti alarm kebaran

***


Kelas mulai gaduh dengan celotehan ringan tapi sangat mengocok perut, tak lain the master of joke Syeh Roni atau Syahroni alias SR. Lelaki kurus yang tergabung dalam anggota TBK, tak lain Tiga Bujang Keceng. Nyoman sebagai ketua merangkap anggota, Nablus bendahara plus anggota, dan SR sekretaris merangkap pula anggota. Jangan heran kenapa merangkap kerena anggotanya hanya 3.hwa..ha..ha…, Aku tak habis pikir juga kenapa aku tak termasuk anggota TBK, padahal menurut kaum hawa di kelasku aku juga termasuk jajaran Pria Kurus 2009, mungkin hanya beda 1 kilo saja beratku dengan sang ketua.

Bu Amila berjaran ke tengah podium kelas. Kelas kembali sunyi senyap, saat ditanya siapa ketua kelasnya? oleh Bu guru berkacamata itu. Bak ditengah kubur. Tak ada yang menjawab hanya memandang ke arah Handy. Entah kenapa, semuanya serasa punya satu rasa yang sama bahwa akan ada penggulingan rezim kepemimpinan Handy. Mulailah terlintas pikiran akan adanya PILKALAT 2010. PILKALAT tak lain dari Pemilihan Ketua Kelas dan Staff. Handy mungkin akan tumbang kali ini, akan muncul pula wajah-wajah baru.  Karirnya dalam berpolitik pun cemerlang pada awal masuk. Ia diamanati wakil ketua bersama Kuteng. Kuteng tumbang naiklah Handy ke jabatan ketua bersama Laras. Pemeritahan kembali memanas dengan hadirnya peristiwa-peristiwa tahun  2009 lalu. Handy terlihat pasrah dengan situasi ini, tampak bitiran-butiran wajahnya tak berselera lagi untuk menjabat. Mengemban amat sebagai ketua kelas sangat berat, jangankan ketua kelas, apalagi presiden yang mengurus negara dengan penduduk yang majemuk? Aku saja yang sekertaris ikut punyeng. apalagi Handy?

Panggung demokrasi dibuka, bak sandiwara politik orang-orang pemegang kursi kepemimpinan, jika kamu bayangkan saling berebut. Jatuh calon satu, pendukung kecewa, sikut lawan politk pendukung gusar. Porak-poranda jalan umum, fasilitas rusak, kaca-kaca tak bersalah retak berkeping, asap mengepul dari ban mobil yang dibakar atau bersamaan dengan mobilnya. Gelap mata mereka tanpa sadar semua dilalap habis. Layaknya angin puting beliung besar menghancurkan semua yang ada didepanya. Anarkis-anarkis, semangat yang kebablasan.
Talevisi memang menampilkan hal yang realita, tapi tak seperti itu demokrasi di kelas kami, Aksi Anarkis memang terjadi tapi Anarkis itu di kelas kami adalah hal yang relatif. Tak ada keributan, adu jotos, calon saling menggulingkan. Tak ada, semua nol. Anarkis dalam mengajukan calon, saling beradu mulut agar suara didengar.
“Siapa saja calon-calonnya? Kalian sendiri yang menentukanya.”
Demokrasi semakin tercipta Oleh Bu Amila Untuk kelancaran PILKALAT ini.
“Agus….Agus…Agus…..,Hasan…Hasan…Hasan.”
Seruan tak beraturan memenuhi ruang kelas kami.

Sejanak kelas mirip kapal pecah, berhamburan tak karuan. Dan terpilihlah calon-calon yang kuat dukungannya antara lain : Agus Alias Encep, Hasan, Eko, Nindhar, Dhanik, Maid, dan terakhir Aku. Aku bergejolak dalam hati. Kenapa harus aku? Kan ada yang lain yang lebih bisa memimpin? Kenapa namaku terpilih dalam jajaran calon tersebut. Aku ingin berontak seperti banteng dalam pertunjukan matador spanyol. Melepaskan ikatan dari jajaran tersebut. Pasalnya aku sudah menjabat selama kelas 1 sebagai Bendahara, kelas 2 sebagai Sekretaris. Manamungkin aku melanjukan lagi, kata orang waktunya pensiun. Aku bosan. masa kelas 3 adalah masa yang berat untuk menjabat lagi.

Aku mencium adanya kongkalikong dibalik ini semua, konspirasi terselubung selimut-selimut yang tak tampak mata tapi bisa kurasakan. Konspirasi kaum wanita yang bersebrangan dengan kaum pejantan. Kaum pejantan pun terpecah menjadi 2 kubu. Kubu selatan mendukung calon tetapnya sang penguasa dalam film pendek James Bendot Masuk Desa, Hasan Kapak Teyeng. Jagoan pengganggu keamanan desa, tapi itu hanya dalam vesri film pendek. Dalam kenyataanya jelas bersebrangan. Aku tergabung dalam kubu selatan.
Sedang kubu utara mendukung Agus dengan tim suksesnya para punggawa, Ricky, Faruq, Nablus dan Kuteng. The Silent diklaim pada dirinya yang dinyatakan pertama kali oleh Haya. Dengan coloteh inggrisnya yang begitu fasih.

Ditengah-tengah tampak  panggung semakin mega bendera para pedukung semakin berkibar. Dukungan demi dukungan mulai diperdengarkan, banyak yang angkat suara sebagai tim sukses. Bak minyak dan air berat jenisnya berbeda tak mau bersatu. Ada kubu-kubu yang memisah. Sementara wajah The Silent tertunduk dengan rona merah mirip semangka dibelah dua menyelimuti pasrah, Hatinya tak karuan, berhamburan seperti 26 Desember. Matanya tampak berkaca-kaca ingin tumpah. Ekspresi kesedihan mungkin ia tahu menjadi pemimpin memang sangat berat. Eko sahabat batunya mencoba menenangkan keadaan yang berpihak kepadanya. Sementara Hasan Kapak teyang seperti Pak tua kebakaran jenggot tak tahan dengan dukungan itu. Memang terbalik dengan apa yang kita saksikan sandiwara di Republik ini.

Bu Amila selaku Wali Kelas, serta menjabat pula secara langsung sebagai ketua KPK, Komisi Pemilihan Ketua Kelas. Beliau memimpin dengan hikmat menyaksikan secara langsung, membagikan kertas suara yang dibantu oleh kawan-kawanku.

“Anak Ini demokrasi. Dimana pillihan ini sangat menentukan, jadi ‘dari kalian untuk kalian’. Bu Amilah berpesan siapa saja nanti yang terpilih harus bertanggung jawab atas amanah ini, mengerti?”
“Mengerti…!”
 “Dan sekarang apakah kandidat sudah siap?
“siap…!” suara serempak kembali menyerbu, padahal kami para kandidat dengan berat hati, bukan kami aku atau enam kandidat lainya yang mengiyakan tapi para tim sukses.
“Silakan kandiidat maju dengan berjajar didepan!”

            Aku maju dengan berat hati, melangkah malas menuju podium depan.  Suasana ramai kembali, dengan teriakan dari masing-masing kubu. Kode kandidat ditentukan mulai dari The Silent dengan satu, Dhanik  dua, Hasan KT tiga, Eko empat, Maid Lima, Nindhar enam, dan terakhir aku kode paling ujung, tujuh. Aku berdiri ditengah riuh demokrasi kelas ini. Aku bertindak tak mengghiraukan mereka. jika aku memiliki romote control ingin ku buat menjadi mode mute. Seakan tuli tanpa suara. Tak perlu lagi ku dengar lagi konspirasi-konspirasi itu.

Kertas suara sudah ditangan sementara Ketua KPK mulai mengomando untuk menulis. Sontak semua mengambil pena masing, mengisi lembaran putih ukuran 5x5 centimeter. Secepat kilat kertas itu tergores pena dengan isi sebuah suara penentu masa depan kelas. Kertas benda memang yang ajaib. Kertas yang membuat kandidat resah, kertas yang membuat kami berkubu-kubu, kertas yang membuat The Silent ingin menangis. Kertas memang kertas. Kerta memang bisa mengubah dunia. Tak salah manusia kayak karena kertas, macam uang, macam piagam perdamaian, macam surat cinta. Hebat kali ia.

Tak ada kotak, topi pun jadi. Topi abu-abu bau keringat kepala milik Yudha dikelilingkan. Kertas suara dikumpulkan dengan lipatan yang tak menentu arahnya tiada kemiripan sama sekali dengan lipatan kertas Pemilihan Umum. Kubu kembali ramai tak terbendung saat suara mulai dihitung, apakah betul 35 lembar. Satu per satu dibuka ketas 5x5 centimeter. Seksi pencatan dilayar putih, papan tulis kami sudah siap dengan spidol broadmarker, Irma Puput dan Tri Novita.
“Suara pertama….” Bu Amila beseru.
“Agus.”
Hue……” bersorak lega kubu utara, para punggawa.
“Hasan”. Dibalas lagi
Tak mau kalah semangat kubu selatan besorak sorai. Hafid mengangkat tangannya mengucap syukur. Dua suara itu saling bekejar-kejaran macam film action Hollywood. Kegundahan kembali melanda The Silent. Saat tahu banyak pihak yang mendukungnya. Layu bagai bunga di musim kemarau panjang.

Aku gembira atas keadaan itu. Tidak ada dukungan padaku membuatku lega dan cengar-cengir kerbau. Waktu terus berjalan begitupun kertas 5x5 centimeter yang semakin habis. Hanya beberapa menit aku cengar-cengir kerbau. Mendung tiba-tiba datang berarak layaknya gerombolan tur motor. Kilat menyambar-nyambar, pemilihan tetap lancar.
“Muzakki”

Duar…..
Kilat 7 juta giga volt menyambarku. Aku tak percaya, ternyata masih ada yang memilihku. Suaraku semakin memuncak mengalahkan Hasan KT. Kilat itu datang menyapa, dan memukul mundul Hasan diposisi bawahku berdampingan dengan Nindhar. Pergolatan hebat di kubu selatan, karena aku masuk dalam kubu itu. Mereka sepakat tak ada tempat untukku. Aku pun sepakat. Tapi tidak pada kaum hawa mereka secara gerilya membuat konspirasi yang hebat, bisa memukul mundur Hasan KT. Kini bakal calon Vice President Class siap mampir padaku. Detik-detik penentuan hanya tersisa 1 kertas 5x5 centimeter itu. Jantungku semakin cepat mirip piston motor 500 cc, Lorenzo. Garis finish terlihat dibenakku dengan warna caturnya. Aku ingin finish terakhir macam calon yang lainnya. Dibukalah kertas itu muncul sebuah nama, dan siapapun nama itu tak bisa menggoyahkan The Silent yang masih di atas angin.

Podium demokrasi sudah menampakan hasil yang sepadan, Para punggawa besorak gembira macam anak TK dengan wajah riang menenteng mainan robot-robotan baru. Hasil menunjukan perolehan suara yang menyatakan The Silent sebagai President Class (PC) atau ketua kelas. Aku masih bergejolak dari amanah itu. Tak puas dengan keputusan mereka menobatkanku sebagai Vice President Class (VPC). Berontak, ingin aku berontak tapi tak bisa. Gerutuan-gerutuan pada diriku sendiri melintas. Ketua KPK yang anggun mulai angkat bicara. Beliau mengingatkan kami, bahwa jika kita mendapat amanah maka jalankanlah anamah tersebut dengan penuh tanggung jawab, dan keilkhsan, sebagai mana yang dicontohkan Nabi umat Islam, Muhammad SAW.

Aku tersadar dari ucapan beliau, begitu juga dengan kawan-kawan yang kini sudah menjadi sirup larut besama air, bersatu. Nyoman pun menggerakan hatiku, dengan membangkitkan seruan Ayo zakki! Kawan-kawanku, saudaruku Moeltimedia Generasi 5 tergerak hatinya dan berseru padaku. Aku berdiri menatap persatuan dan semangat ini. Semua berdiri, bersatu.

Langkah mantapku sudah terasa, aku maju menuju tempat peraduan The Silent sang PC saat ini. Kuraih tangannya, dengan jabatan tangan penyemangat awal kepemimpinan baru. Kami berdua harus puas pula karena salah satu staff kami Hasan KT sebagai seketaris 2 bersama Nindhar.

Ketua KPK meresmikan kami, sekaligus memerintahkan PC berpidato atas jabatan baru. Dan sebuah awal untuk pembuktian The Silent tak lagi The Silent  tapi The Changer.
“Assalamualaikumwarohmatullahiwabarokatu, kawan-kawanku sekalian, terima kasih telah memberikan Amanah ini pada kami. Sehingga kami bisa memimpim mulai detik ini. Saya ketua kelas, beserta staff memohon do’a pada kawan-kawan sekalian semoga kepemimpinan kami berjalan baik, dan lebih baik dari hari-hari yang lalu.”
“Amien.” Seluruh kelas menggemakan suara perubahan baru ini.
Aku pun turun dari podium kelas dengan tepukan suara yang ramai. Banyak yang tertegun dengan sisi pendiam Agus selama ini, ternyata berbeda. Itu semua karena gagasan tim sukses Punggawa. Dan itu memang tugas tim sukses. Hari itu juga kami sebut sebagai Demokrasi Tanpa Suara. Agus yang The Silent kini Agus the Changer. Bel pergantian pelajaran menutup demokrasi ini. Matahari memancar dibalik awan-awan hitam menuju arah pulau dewata. Besamaan itu pula aku dan kawan-kawan memandang keluar melihat titik air hujan membiaskan cahaya menjadi pelangi di ujung barat.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "DEMOKRASI TANPA SUARA"

aditya said...

arek MM mek 35 tah???

Zakki Chukak said...

sorry boy lali.....heheheheh