Pesawat
Pesawat
Tak perlu kau ridu menuggunya…
Perlahan lupakan kepergiannya…
Tunggulah keeling lampunya..
Pertanda dia telah bertemu…
dengan peri kecilnya di bulan…
Pesawatku terbang ke bulan…
Pesawatku terbang ke bulan…
Pesawatku terbang ke bulan…
Pesawatku terbang ke bulan…
S
|
epenggal lirik lagu Memes ibu
dari Kevin Viera yang mengalun melalui gelombang radio bermerk Panasonic hitam. Aku sarapan pagi dengan
telur mata sapi setengah matanng, nasi hangat, kecap kental manis, dan teh
hangat menemani diatas meja makan kecil bertaplak meja biru mudah dengan motif
daun-daunan khas dari Bali walau tidak pernah
ke Bali . Kupersiapkan topi dan sepatu,. Pagi
yang cerah mentari mengeluarkan efek-efek sinar suryanya.Sungguh pagi yang
sehat,.Usai sarapan aku bergegas menjijing tas warna Oranye pemberian dari
kakak sepupuku. Sepeda BMX berlapis chroome
menemani dengan kayuhan laiknya sang pembalab, Aku berangkat dengan semangat
menuju SD yang letaknya tak jauh dari pasar Klojen.
Lampu lalu lintas menyala merah terang. Kotaku dipagi
hari, ramai saat orang dewasa berangkat kerja, remaja dan anak berangkat ke
sekolah, jika sudah siang lengang dan longgar untuk melenggang bagi mereka yang
ingin menyusuri jalan-jalan kota. Begitulah kota kecil yang jarang sekali ada
keramai, jarang ada keributan, jarang ada demo, jarang ada pengendara
uggal-ugalan, jarang ada konser musik band-band ternama, jika ada mungkin hanya
4 bulan atau 1 tahun hanya sekali atau tidak sama sekali. Sungguh surga bagi
orang yang mencintai kedamaian. Hari selalu baru tapi perubahan pada kotaku
belum ada yang baru. Dalam bahasa jawa ngunu-ngunu
wae, yang artinya begitu-begitu saja.
Disini tiap orang menerima apa adanya. Dengan
hidup tak serba mewah, dan tetap dengan
kultur Islam yang melekat pada masyarakatnya. Lumajang kota mati yang banyak di
tinnggal penghuninya yang hijrah ke kota-kota besar di Indonesia untuk mencari
sumber rezeki yang baru. Dan Aku bermimpi saat duduk di bangku sekolah SD, aku
sudah berkhyal kapan kotaku yang memiliki gunung tertinggi di pula jawa ini
bisa berubah taraf hidup pencarian oranganya, sarana dan fasilitas, dan sebuah
harapan baru muncul.
Aku, Alan, Putra, Ogi, dan Wibi, hanya bisa
bermimpi untuk bisa merubah Lumajang menjadi kota yang besar. Menjadi tonggak
sejarah peradaban di Indonesia. Mereka adalah Teman sekampungku memiliki sebuah
mimpi yang tinggi dan berharap bisa berkumpul kembali saat kita sudah berhasil,
kami berjanji akan membangun kota Lumajang menjadi pusat perhatian. Kami
berkhayal di tepi sawah yang sering kami jadikan markas yaitu tanah Pak Kusen. Tanaman-tanaman jagung
dan singkong menjadi saksinya. Aku,
Alan, dan Wibi satu sekolahan dan masih SD, sedangkan Putra dan Ogi sudah masuk
SMP, kami hanya selisih 1 tahun saja.
“Dan kamu nulis apa saja itu? Bahasamu terlalu
tinggi. Jadi pusing ini melihat” Alan mengeluarkan ucapan dengan nada bingung
membaca uraian tulisanku diatas.
“Oh, itu? Itu adalah sebuah impian kita yang harus
terwujud, entah kapan Bos.” Aku selalu memanggilnya dengan bos entah siapa yang
memulainya.
“Walah,tinggi
juga cita-citamu. Walau masih SD tapi bahasamu kayak pejabat saja.”
“Makanya kalau lihat tipi itu berita bos, jangan
sinetron bos melulu, dan kalau baca dipahami bos, mumpung masih muda” Sambil tersenyum simpul aku menuturkan itu
pada Pak Bos Alan.Wajahnya hanya bisa manggut, aku memang senang menulis, sudah
mulai kelas 3 aku mulai menunjukan bakat menulisku, tapi hanya sebatas buku berisi
cerita-cerita karanganku dan puisi yang tak ada seorangpun yang tahu. Terkadang
aku berhanyal kota ini bisa memiliki bandara sendiri seperti di Cengakareng
Jakarta. Soekarno-Hatta.Pasalnya, di kota kecil ini sangat langkah sekali yang
namanya pesawat. Bisa melihat pun itu meruPakan Anugrah, seperti dewa yang
turun dari langit.
Lonceng berdentang berada dekat dengan tiang
bendera. Pak Hasim memasuki ruang kelasku, beliau adalah wali kelas kelasku di
SD Negeri Citrodiwangsan 2, karena kami tinggal di kelurahan Citrodiwangsan.
Teman sekelasku yang tadinya gaduh seperti kapal pecah dalam kelas ini menjadi
diam sejenak saat Pak Hasim berjalan menempati pediumnya atau mejanya.
“Sebelum di mulai
berdoa dulu anak-anak” Ucap BaPak guru yang berambut keriting dan
berjenggot., mirip dengan Rhoma Irama, suaranya pun juga mirip. Ketua kelas
kami Rizal memimpin doa dengan khimat dan khusuk.
“Siap Berdiri! Memberi salam!”
“Assalamualaikumwarohmatullahiwabarikatu”
“Walaikmsalamwarohmatullahiwabarokatu,
Silakan duduk kembali.” Pak Rhoma Irama mempersilakan duduk. Eh, salah Pak
Hasim.
Kami terkadang sering salah memanggilnya
dengan Pak Rhoma Irama.
“Keluarkan LKS IPA-nya anak-anak, dan buka halaman
27.” Suara merdu Pak Rhoma Irama menggema diding kelas kami. Dengan segera
semua temanku mengeluarkan LKS dari masing-masing tasnya. Aku pun tak
ketinggalan untuk mengeluarkan dari dalam tasku.
“Astaghfirullah”
“Ada apa Dan?” tanya teman sebangku Hernowo.
“LKS-ku ketinggalan Wo.”
“Waduh, biasanya Pak Hasim bisa marah ne
Dan, coba cari lagi kali aja terselip”
Wajah masam dan merah menancap padaku. Kucari di
bagian resleting tengah tidak ada, di bagian depan tetap juga, resleting kecil
tetap tidak ketemu. Semakin gelisah aku mencari.
Aku keluarkan buku satu persatu, tetap tidak aku temukan juga. Keringat
dingin semakin mengucur, jantung memompa darah lebih cepat. Pak Hasim memeriksa
LKS teman-tamanku satu per-satu. Dalam hatiku, aku bergumam Ya Allah, dimana
LKS ku? Padahal semalam aku ingat memasukanya kedalam tas ini?
Bangku barisan
paling kanan pertama di periksa oleh Pak Hasim, bangku kedua, ketiga, dan ke
empat dari depan ke belakang. Aku yang duduk nomer 2 dari belakang, Aku menganggap
bahwa bangku ini memang yang paling nyaman, karena aman dari pengawasan guru. Tapi tidak untuk kali ini. Mata Pak Hasim
seperti elang yang berpotroli mencari mangsa anak ayam. Akulah sekarang anak ayam
itu, yang sedang diintai dari langit biru, dan jika kena maka di introgasilah
aku, bagai tahanan kelas kakap, tapi bukan dijebloskan kepenjara melainkan maju
berdiri menjadi pemandangan didepan kelas. Apa bukan hukuman yang memalukan? Kuat
sih kuat, tapi rasa malunya. Apalagi didepan murid-murid perempuan.
Bangku
nomer empat sudah diperiksa, kini giliran bangku nomer lima yaitu tempat
peraduan Aku dan Hernowo. Aku hanya bisa menundukan kepala tanpa bisa berbuat
apa-apa, pasrah adalah jalan utama. Dug...dug...dug...semakin
keras deru jantungku seperti piston mobil F1, Aku berharap waktu bisa diperlambat
seperti di film ‘Matrix’, tapi hanya
aku saja yang bisa berlari kencang untuk pulang kerumah mengambil buku yang
tertinggal itu.
“Hernowo mana LKS-nya?” Sorot matanya yang tajam
menatap Hernowo.
Heernowo yang tahu aku tidak membawa buku ikut
juga kena wabah gugup menghadapi Pak Hasim, entah apa kerena solidaritasnya
padaku. Oh Allah maafkan aku yang telah membuat hati temanku menjadi berguncang.
Padahal Si Hernowo itu Aku kenal sebagai Pria Pembarani diantara teman-temanku.
“Iiiiiini Pak.”
Perutku menjadi mual kala pemeriksaan pada Hernowo
telah usai.
“Kamu Mana Bukunya Dan?”
“eehhh...ehhhh......”sambil garuk garuk kepala aku
mengatakan bahwa bukunya ketinggalan dirumah.
“Apa dirumah? Kenapa kok tidak telingannya
yang ketinggalan.”
Mata Pak Hasim Semakin tajam.
“Berarti kamu tadi malam tidak belajar ya?”
“Belajar kok Pak.” aku mennduk tak berani menatap
mata Pak Rhoma Irama yang menajadi
mengganas, bukan menanyanyi tapi geram, bak elang yang siap meluncur.
“kok
bisa, bisa sampai kertinggalan? Berarti
benar apa yang saya katakan tadi? Jadi kam Di hukum Ayo maju ke depan. ”
“tttaa…ta…pi saya sudah yakin memasuknya tadi
malam Pak, dan saya belajar tadi malam”
“tidak ada tapi-tapian, kalau tida membawa harus
terima konsekuensinya.”
Dengan rasa malu yang merebak di wajahku, didepan
kelas aku berdiri sampai jam pelajaran Pak Hasim usai, sepert berlatih kekuatan
kaki saat olah raga. Dan ini yang harus aku terima dari kelalaianku.
^*^*^
H
|
ampir 1 jam pelajaran, aku berdiri dalam hukuman dengan muka tertunduk
malu. Lantai hanya menjadi teman yang berani
aku pandangi. Pelajaran dilanjuktan Pak Hasim dengan memberi pertanyan pada
murid. Siapa yang berani mengacungkan jari, maka Ia akan mendapatkan nilai
tambahan.Adu cepat pun di mualai. Aku iri pada teman-teman yang bisa duduk
menjawab pertanyaan itu, sebab aku yang biasanya menjawab pertanyaan itu.
Berebut secepat mungkin menjawab pertanyaan dan puas mendapatkan nilai. Alan
dan Wibi tersenyum kegirangan kerana mereka puas tanpa harus kalah beradu
kecapatan menjawab denganku.
Kali ini Pak hasim memberi pertanyaan yang menjadi kelemahan dari semua
teman-temanku.
“Ada sebuah segitiga siku-siku ABC, diketahi AC=8cm, BC=10cm, maka berapakah
panjang AB?”
Semua diam tanpa ada yang menjawab. Aku yang terdiam, dalam hati
ikut mencari jawaban tapi tidak dapat aku pecahkan. Sampai Rizal pun yang murid teladan sampai bingun.
Aku mencoba melirik teman-teman yang berusaha memecahkan pertanyaan ini. Tidak
satu pun lengah dari kertas untuk mencari jawabanya. Semua pusing
memikirkannya, sampai rasa pegal menyelimuti kakiku.
Tiba-tiba muncul seorang yang mengangkat tanganya tinggi-tinggi.
“Jawabannya 6 centimeter Pak.” dengan suara yang nyaring dan tegas.
“ Iya, Benar. Bagaimana bisa 6 coba jelaskan!”
“Saya memakai rumus Phitagoras Pak, jadi
rumusnya begini. AB2+AC2=CB2, begitu Pak.
jadi jawabanya ketemu 6 centimeter Pak.”
Wah, hebat nian Dia! Rasa kagumku muncul dari
temanku yang duduk dibangku 2 dari depan barisan ketiga sebelah kanan, Ia
adalah Nasir Si jenius, walau mukanya tidak meyakinkan, mirip dengan muka blo’on
tapi jeniusnya patut diakui. Berangkat dari keluarga berlatar tidak mampu, namun
tak melunturkan semangatnya pergi ke sekolah. Dia kayu sepedanya BMX usang
warna hitam, saat pagi buta dengan tas hijau bergambar kuda mustang, dia selalu
datang lebih pagi di banding aku. Sungguh hebat. Sorak-sorai teman-teman
meramaikan kelas.
Tiba-tiba kegaduhan muncul dari luar kelas, ramai
sekali. Sampai aku lupa pada hukumanku. Sayup-sayup suara adik kelas menjamah
telingah teman-sekelasku. Awal ada teman yang mengintip dari jendela dan
berujung loncat keluar dari kelas semua. Aku pun ikut juga tanpa sadar bahwa
aku sedang di hukum.
Hueng….hueng…hueng….
“Kapal Aku njalok duwite…!”
Teriak salah seorang adik kelas, diantara semua
murid-murid berhamburan laiknya tawon kegirangan menemukan madu. Kata-kata itu Artinya “pesawat aku minta uangnya”. Aku terkesima dengan
3 pesawat tempur Milik Tentara Republik Indonesia yang bermaknufer hebat diatas langit sekolahanku yang
biru nan cerah. Semua penghuni sekolah tercengan dengan pemandangan yang jarang
disaksikan itu. Kecuali Pak Hasim,wali kelas kami. Beliu kelihatan geram dengan
semua itu.
3 menit Pesawat beratraksi diudara meninggalkan
jejak sebuah asap putih di langit seperti lintasan bidadari yang mau turun dari
kayangan. Rasa kagum itu tak hilang walau 3 menit. Teman-teman kembali memasuki
kelas. Terlihat wajah Pak hasim yang kesal karena ditinggal kabur
murid-murinya. Aku tak sadar duduk kembali ke tempat dudukku seperti tanpa
memiliki dosa. Apa karena pengaruh sihir pesawat tempur membuatku lalai?
“Kalian ini, seharusnya menjadi contoh dari adik
adik kalian. Bukan malah ikut keluar melihat yang seperti itu? Memang
disini tidak ada yang seperti itu, tapi saya belum selesai menerangkan kalian malah ikut-ikutan menghamburkan
konsentrasi. Ada
waktunya tersendiri kalian tahu tentang itu, tapi itu setelah kalian berhasil
nanti. Sekarang waktunya sudah dekat dengan Ujian Nasional, Apa pesawat itu
yang akan menggantikan kalian jika tidak
lulus nanti saat Ujian Nasional? Tidak kan ?
Jika kalian ingin dihargai maka hargailah orang lain. Mana sopan santun kalian
pada orang yang lebih tua? Belajar selama 6 tahun belajar disini tidak
memperolah apa-apa? Kasihan Orang tua kalian Mencari uang untuk menjadikan
Anaknya pintar, Agar anaknya lebih berguna, agar anaknya tidak sensara, dan
enak nantinya. Itu terimakasih kalian pada orang tua?”
Pak hasim menghentikan nasihatnya
sejenak heining menerpa suasana kelas.
“Jika kalian
ingin di hargai maka hargailah orang lain. Siapapun yang ada di sekolah ini,baik penjaga sekolah, guru yang tidak
mengajar kalian, siapa saja, yang lebih tua khususnya. Ingat itu anak-anak.
Taruh dalam hati kalian sedalam –dalamnya agar ingat sapai tua. karena ini akan
menjadi adalah adat unggah ungguhe nang
wong tuo1. Dan 1 lagi! jangan terpengaruh lagi dengan bujuk rayu
yang membuat kalian terlena! Dan
Jelajahi dunia dengan pesawat ilmu kalian.”
Teng…teng…teng…
Suasana kembali mencair saat bel istirahat
berbunyi, murid murid mengemasi bukunya kedalam tas agar terlihat rapi. Pak hasim berpamitan keluar sambil
mengucapkan salam. Aku begitu terpesona dengan perisiwa ini. Hernowo, Alan, dan
Wibi mengajaku untuk beristirahat sejenak menuju kantin Paklik Agus yang berada
disudut sekolah. Sambil membicarankan tenteng barusan yang aku alami bersama
teman satu kelasku. Al-hasil makanan ringan dan pisang goreng menbuat hatiku
lebih tenang sambil mengingat-ingat kembali nasihat pak Hasim, Rhoma Irama penunjuk
jalan terang.
1.unggah ungguhe nang wong tuo adalah sopan santun kepada orang tua.
0 Response to "Pesawat"
Post a Comment