Titik Nadir Kehidupan



Sore itu matahari menyerahkan sinarnya dibarat. Hiruk pikuk kegiatan siang menghilang, berubah menuju konsentrasi istirahat ditengah lelahnya hari ini. Kecing kecil didepan rumahku mulai menunggu didepan pintu, menanti sisa-sisa ikan yang kami makan sekeluarga. Hari ini ikan pun tak ada, hanya nasi dan lauk tempe 10 buah 1 sachet kecap manis ABC, setiap anggota mendapatkan 2 buah tempe. Kadang aku miris melihat merasakan lingkaran hidup keluargaku.

Sayub-sayub adzan maghrib menggema, suatu kegembiraan bagi ibuku. Ibuku adalah ibu terbaik sedunia, wanita tegar dan sholeha yang patut ku junjung tinggi. Beliu selalu menahan lapar kala hari senin dan kamis, tak lin puasa sunah senin-kamis. Ketaatan itulah yang membuatku belajar prihatin, belajar memahami kekurangan pada keluargaku, salin itu beribadah dengan tekun, keteguhan hati untuk Tuhanku. Jika pertengahan malam datang, Aku terbangun melihat ibuku yang menengadahkan tangannya dan sujud pada Sang Illahi. Untuk keluargaku dan kami anak-anaknya. Aku sadar setiap manusia mempunyai titik nadir dalam kehidupanya, The lowest point in the his life. Yaitu dimana ia berhadapan dengan Tuhannya.
Hatiku miris, hatiku sendu, hatiku pilu. Adikku datang dari sekolah, Ia menangis. Tamapak sebal dan kesal dari kesedihannya. Tas dan sepatunya tampak lusuh dan berlubang. Ia meminta pada ibuku agar dibelikan sepatu dan tas. Bapakku masih belum mendapat upah kerja sebagai satpam outsoursing. Aku tak kuasa melihat itu semua. Mata ibu menyembunyikan kesedihan. Bibirnya hanya mengucapkan kata sabar, dan berjanji jika rezeki akan dibelikan. Aku tertunduk, menangis dalam hati, belum sanggup memenuhi itu. Dan saat itu pula aku berjanji, aku harus sukses.

to be countinue....

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Titik Nadir Kehidupan"