Wanita KW vs Sepeda BMX

Langit sore sudah menunjukan senjanya yang mulai menguning. Aku mulai bergegas mandi untuk bersiap menunggu teman-temanku yang akan datang untuk belajar bersama. Entah kenapa teman-temanku suka sekali belajar di Rumahku. Namun bukan belajar sih lebih tepatnya diskusi tentang pelajaran yang sama sekali tak dapat dipahami untuk masuk ke otak, masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Ibu sangat senang walau kadang Beliau ragu dengan hasil belajar kami.

Kami sering berkumpul dan tidak main yang macam-macam, hanya belajar yang ala kadarnya. terkadang jika Bapaku punya rezeki lebih beliau menyuruh Ibuku untuk masak lebih, dan diajaknya teman-temanku makan bersama. Aku ini bukan dari keluarga yang mampu istilahnya keluarga menengah keatas. Orang tuaku selalu mengajarkan untuk berbagi dengan sesama, karena dengan kita berbagi maka rezeki akan dilipat gandakan oleh Tuhan.

Usai belajar, aku dan teman-teman beranjak pergi keluar sejenak untuk menikmati indahnya seputaran kota Lumajang. Mulailah kami menggulung rantai sepeda BMX, dan Federal atau sepeda gunung (menggulung rantai sepeda? apa maksudnya? bukan reparasi sepeda?). Menggulung rantai sepeda adalah istilah kami untuk bersepeda. Rata-rata dari kami menggunakan sepeda tipe BMX. Terkadang kami melakukan atraksi-atraksi kecil sepeda ala Westside story 5566. Jumping depan, rem ban depan, angkat ban belakang, melompati parit kecil, jumping lumba-lumba, bergaya seperti pemain profesional lah.

Aku dan teman-teman mulai bersepeda dengan santai. Kami seperti konvoi ada 15 sepeda. Ini adalah konvoi yang tak menimbulkan polusi, eh bisa sih polusi jika perut mules. Putra menjadi pemimpin didepan bersama Cipto Corong. Rute diambil dari Patok Bayeman, berputar sejenak lanjut munyusuri jalan Semeru. Kami berhenti dengan tertib di Perempatan Klojen dekat SD karena ada lampu lalu lintas.
"Put, mau kemana?" sapa Paklek Kusen tukang dagang kacang senior
"Ini paklek jalan - jalan dulu bareng temen-temen biasa mejeng" jawab Putra

Kami susuri jalan Jendral Panjaitan menuju pusat kota Alun-Alun Lumajang. Aku memacu sepeda BMXku yang setangnya warna silver, rangkanya juga silver, peleknya silever juga, dengan kecepan yang hampir setara mesin motor. Bahkan kami mampu melawan Honda Grand. Sementara Putra mampu melawan Kawasaki Kaze R. Anwar tak mau kalah. Ia melawan Motor Suzuki Tornado. Sementara Cipto Corong juga ikut-ikutan panas. Ia nekat melawan Suzuki Satria 120R, dikayuhnya dengan kecepatan penuh. Ia menang telak sebab lawan belok ke warung Bek La. Kami memutari Alun-alun selama 7 kali berharap bisa memutari ka'bah di Mekah (Filosifi yang tak masuk akal).

Kami berhenti sejenak di depan Gedung Bupati untuk melepas lelah dan membicarakan rute selanjutnya. Sembari duduk berkumpul kami jajan cilot (Cilok), makanan warisan jajahan Jepang, namun bagi kami enak sih. Beberapa saat setelah beristirahat, rute selanjutnya diputuskan yaitu menuju Embong Kembar atau Jalan Gubernur Suryo. Bergegas kunaiki Si Silver mengikuti alur teman-temanku berbaris mengowes dengan asik.

Asal usul Nama Embong Kembar berdasarkan pengelihatanku dikerenakan jalan itu dibagi menjadi 2 arah yang berbeda dan ada pulau-pulau nya ditengah dalam bahasa teknik dinamakan median. Kami mulai menggowes melewati Jalan Kyai Gozali menuju perempatan ST, Jalan Hos Cokroaminoti belok kanan menuju jalan Nasional III. Sampailah kami di Embong Kembar.

Malam sangat santai untuk bersepeda, sampai memasuki embong kembar kesantaian kami agak surut. Kami berhenti sejenak sebelum melaluinya. Kami mengatur strategi agar bisa melawat jalan tersebut dengan selamat dan tak kurang satu bagian pun kita. Embong kembar terkenal dengan kawasan wanita kw (Banci)

Suana jalan telihat agak gelap beberapa lampu jalan ada yang padam. kami menyusuri jalan dengan rasa was-was walau dari jumlah kami sebenarnya banyak, tetap saja kami jatung kami berdegup lebih kencang. Tak banyak motor yang melalui daerah tersebut. Aku memacu sepeda dengan terus menyeru nama Tuhan Yang Maha Esa, pasalnya di Jalan tersebut selain menjadi sarang wanita kw juga dianggap kawasan yang Angker. Ada banyak cerita mistis disana, mulai dari kolor ijo, hantu tanpa kepala, hantu kaki dikepala kepala dikaki, sampai hantu tak punya pikiran, dan juga suster balap liar.

Aku tak mau menjadi juru kunci saat melewati jalan itu. Aku mengayuh sepeda berada diposisi tengah. Beberapa dari cerita yang santer dimasyarakat dan sudah aku dengar memang sangat menggetarkan bulu kudukku. Aku mengayuh si silver tepat disamping Putra, Cipto Corong, Januar. Anwar selalu santai dibelakang dengan gagah berani, tak peduli apapun.
"Yang penting santai Rek!" ungkapnya.

Situasi mulai sedikit mencekam saat kami memasuki pertengahan jalan. Aku melihat ada satu Banci (wanita kw) berdiri dibawah satu lampu jalan yang masih menyala terang. Putra tanpa sadar mengucapkan kalimat yang memang tak boleh dilontarkan saat kami melintasi jalan itu. Entah disengaja menyanyi untuk menikmati suasan atau tidak, memang Putra adalah orang yang superduper berani.
"Bila kubayangkan ada seorang BANCI!!!" nyanyian lantang Putra.

Aku terperanjat bukan kepalang kagetnya. Kata-kata keramat itu terlontar dengan keras, lugas, jelas dan culas dari lidah tak bertulang Putra. Sang Wanita KW yang berada dibawah lampu tiba-tiba mengeluarkan suara perkasanya yang membuat jantung kami berdetak kencang seperti gerderang mau perang.
"WOI, TANGKAP MEREKA!!!" 

Aku & Cipto Corong tanpa pikir panjang menggowes dengan kecepatan tinggi. Aku menyadari bahaya yang akan datang didepan. Aku melihat wanita kw yang tadinya hanya 1 yang tampak, tiba-tiba muncul 7 wanita kw yang lainnya muncul dari balik semak-semak. Dan terlintas hal-hal yang mengerikan yang pernah diceritakan oleh orang-orang mengenai seseorang yang tertangkap wanita KW. Sungguh tak pantaslah untuk dijelaskan secara detail didalam cerita ini. Teman-temanku yang berjumlah 15 orang termasuk aku kabur kocar-kacir seperti lebah yang kehilangan rumahnya.

Aku kayuh si silver mencapai kecepatan penuh menerjang jalan, melawan angin, mengoreskan ban ke aspal, bersentuhan gir dan rantai, meliuk-meliuk diantara benteng-benteng wanita kw. Aku berada digaris terdepan bersama Cipto corong. Aku mencoba menengok kebelakang posisi teman-teman, terdengar sayup-sayup kegaduhan yang kian ramai, kocar kacir, tunggang langgan tanpa henti jantung berdegup kira-kira 300 BPM (Beat Per Minutes) seperti lagu band Exist yang berjudul Mencari Alasan. Tiba-tiba Januar berteriak
"REK, TUNGGU RANTAI SEPEDAKU LOS, TUNGGU!"
Semakin gawat saja degup jantung ku semakin naik saja menjadi 350 BPM seperti lagu Iklim yang berjudul Suci Dalam Debu.

Sepeda Januar mengalami gangguan di rantainya. Bukan main disaat situasi genting seperti ini ada-ada saja kondisi sepeda Januar. Ia berlari sekencang kencangnya sambil menuntun sepedanya. Aku hanya bisa melihat dari depan. Sementara itu Putra mencoba menolongnya dengan mendorong sepeda dari belakang. Anwar yang tadinya santai menjadi orang paling depan, seakan-akan kecepatannya seperti menaiki motor Honda Win.

Sudar dan Putra yang sejak tadi berada disamping Januar terus membantunya kabur dari kepungan wanita kw yang tiada henti mengeluarkan tenaga aslinya. Bagaikan kucing kejepit yang lari tunggang langgang sampai memasuki perempatan jalan Brijen Katamso. Kami langsung melesat belok kiri mengikuti arus jalan menuju Jalan H.O.S Cokroaminoto, berbelok kanan ke jalan W.R. Supratman menuju Gelora Wira Bakti Lumajang. Situasi sudah mulai kondusif dan aman.

Kami berhenti sejenak menormalkan kembali degup jantung yang berdetak kencang, kaki-kaki yang lelah akibat terkejut dengan auman wanita kw. Kami tak pernah membayangkan akan terjadi hal seperti ini, bak perang melawan alien dan pergi menyelamatkan diri dari bumi. Kami tak henti hentinya menertawakan Januar yang hampir jadi bulan-bulan wanita kw. Kami tak senggup membayangkan bagaimana jadinya jika dia tertangkap, sudah pasti masa depannya akan suram.

Dari kejadian itu kami menyadari jika, kondisi sosial setiap warga negara itu berbeda-beda janganlah kita usik ketenangan mereka. Kita harus saling menghargai walau secara sosial mereka dianggap penyakit masyarakat. Berbeda bukan berarti renggang tapi harus saling menghargai apapun itu perbedaannya, jangan saling menghina dan melihat kekurangan. Itulah prinsip Bhenika Tunggal Ika dan sila ke-3 Pancasila Persatuan Indonesia.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Wanita KW vs Sepeda BMX"