Ranjau Pupuk Kandang
Sore itu begitu semangat bagi kami Rempelas, Remaja RW Enambelas. Termasuk aku ikut didalam keanggotaan itu. Diawali dari rumah Marga teman sebaya kami yang cita-citanya menjadi Pegawai atau orang berdasi, entah itu penjual somay berdasi atau penjaga warteg berdasi. Tapi begitulah adanya. Hari Jum'at dimana hari yang bertepatan dengan ramainya pasar ternak yang disebut Pasar Patok, Kebetulan juga kami libur mengaji . Kami bermain bola di tanah lapang milik Tionghoa Sukses di RW kami, bahkan tiap tahun kami harus mengetuk pintu pengusaha itu agar bisa dapat jatah hari raya walau 2000 perak kami sangat senang. Pasar itu sangat ramai dikunjungi oleh orang dari berbagai pelosok Lumajang yang ingin berdagang hewan ternak, Sangking ramainya terkadang lapangan kami dipakai untuk parkir hewan-hewan ternak
Parkiran itu pula yang mengganggu jalannya pertandingan Sepak bola plastik kami, ingin menjadi pemain sepak bola tak menciutkan niat kami untuk terus berlatih saat libur mengaji tiba. Laiknya pemain-pemain Del Piero, Francisoco Totti, Filipo Inzagi, dan Gianlugi Buffon kami berkiprah, Bola plastik mulai kami oleh, gocek kanan, oper kiri, tendang melambung dan goal.Sampai suatu ketika kejadian tragis, manis, asem, dan asin menimpa temanku , yaitu Ranjau Pupuk Kandang. Nah, kekacauan ini diakibatkan karena ramainya Pasar Patok, dan ternak yang membuang hajat sembarangan. Adalah TrikusWendra yang mengawali kejadian macam slogan permen itu.
Ia gocek bola dengan kecepatan tinggi dan Yogi menghadang mencoba mengambil bola dari selah-selah kakinya. Wendra kekiri Yogi kekiri, Wendra ke kanan Yogi ke kanan, Pertarungan sangat sengit. Angga tak mau kalah. Ia hadang juga melalui sliding tackle, tapi wendra berhasil lolos juga, dan tanpa sadar Ia berbalik di rerumputanya yang agak tinggi dibanding yang lain itu terdapat ada ranjau darat yang menunggu. Berbaliknya badan Wendra menghindari serangan Angga itu. Kaki kanannya mengenai Pupuk kandang yang masih basah
Srut..... terpleset bak penari balet gemulai diudara dan jatuh duduk tetap di Rajau Pupuk Kandang itu.
Suluruh kawanku tergelak, ledakan tawa tanpa henti bak makan jamur tawa, tanpa habis-habinya. Tian, Yanto, Yogi, Marga, Lana,dan Aku tertawa sempai perut melilit. Tanpa ampun Wendra merah mukanya mengejar mereka yang tertawa lebar, dengan pupuk kandang yang belepotan di celananya. Bak anai-anai semua mangambil langkah seribu untuk menyelamatkan diri.
Tapi itu tak berselang lama, permainan barlanjut. Suasan menjadi gerah lantaran semua sudah mulai lelah. kami memutuskan untuk mandi di sungai, Sekaligus membersihkan celana si Wendra. Matahari mengiringi langkah kami menuju sungai. Dan ingatan itu tetap melekat hingga sekarang saat aku jauh dari tanah kelahiranku. Rempelas membuat kami tetap satu untuk RW kami.
Parkiran itu pula yang mengganggu jalannya pertandingan Sepak bola plastik kami, ingin menjadi pemain sepak bola tak menciutkan niat kami untuk terus berlatih saat libur mengaji tiba. Laiknya pemain-pemain Del Piero, Francisoco Totti, Filipo Inzagi, dan Gianlugi Buffon kami berkiprah, Bola plastik mulai kami oleh, gocek kanan, oper kiri, tendang melambung dan goal.Sampai suatu ketika kejadian tragis, manis, asem, dan asin menimpa temanku , yaitu Ranjau Pupuk Kandang. Nah, kekacauan ini diakibatkan karena ramainya Pasar Patok, dan ternak yang membuang hajat sembarangan. Adalah TrikusWendra yang mengawali kejadian macam slogan permen itu.
Ia gocek bola dengan kecepatan tinggi dan Yogi menghadang mencoba mengambil bola dari selah-selah kakinya. Wendra kekiri Yogi kekiri, Wendra ke kanan Yogi ke kanan, Pertarungan sangat sengit. Angga tak mau kalah. Ia hadang juga melalui sliding tackle, tapi wendra berhasil lolos juga, dan tanpa sadar Ia berbalik di rerumputanya yang agak tinggi dibanding yang lain itu terdapat ada ranjau darat yang menunggu. Berbaliknya badan Wendra menghindari serangan Angga itu. Kaki kanannya mengenai Pupuk kandang yang masih basah
Srut..... terpleset bak penari balet gemulai diudara dan jatuh duduk tetap di Rajau Pupuk Kandang itu.
Suluruh kawanku tergelak, ledakan tawa tanpa henti bak makan jamur tawa, tanpa habis-habinya. Tian, Yanto, Yogi, Marga, Lana,dan Aku tertawa sempai perut melilit. Tanpa ampun Wendra merah mukanya mengejar mereka yang tertawa lebar, dengan pupuk kandang yang belepotan di celananya. Bak anai-anai semua mangambil langkah seribu untuk menyelamatkan diri.
Tapi itu tak berselang lama, permainan barlanjut. Suasan menjadi gerah lantaran semua sudah mulai lelah. kami memutuskan untuk mandi di sungai, Sekaligus membersihkan celana si Wendra. Matahari mengiringi langkah kami menuju sungai. Dan ingatan itu tetap melekat hingga sekarang saat aku jauh dari tanah kelahiranku. Rempelas membuat kami tetap satu untuk RW kami.
0 Response to "Ranjau Pupuk Kandang"
Post a Comment