Kemerdekaan dan Dokter Ban
Matahari pagi mengerjab-ngerjab melalui jendela kamar kecilku. Pagi rasanya begitu cepat berlalu. Secercah harapan muncul kembali. Sejak semalam aku siapkan dasi dan ku gosok baju putih abu-abu agar tampil sempurna besok dibawah terik sinar mata hari pagi, saat semua orang bergembira karena bebas dari tangan penjajah.
Aku rindu mendengar suara Bung Soekarno melantangkan suaranya suara proklamotornya.
Aku rindu mendengar suara Bung Soekarno melantangkan suaranya suara proklamotornya.
-
-
-
-
-
-
-
- Proklamasi
-
-
-
-
-
-
-
- Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
- Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
- dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
-
-
- Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
- Atas nama bangsa Indonesia.
-
- Pagi itu dengan semangat yang menggebu-gebu aku berangkat. Aku bersama Siping siap melaju kencang di jalan Argopuro. Siping? ya, Siping nama adalah sebutan sepedaku yang berjenis sepada gunung model perempuan yang mungkin sudah langkah. dengan kecepatan 20-30km/jam aku lajukan di aspal hitam dan bederak-derak pula kampas rem saat ku tekan remnya. Rambutku tertiup angin yang ikut senang pula dengan hadirnya bulan kemerdakaan The Freedome day of my Country is Indonesia. Burung-burung senang bertengger di tiang listrik milik negara. Darah Indonesiaku semakin melaju deras, memabayangkan perjuangan parah pahlawan.
- Hari Sakral ini tak akan aku lewatkan begitu saja, pedal terus melajukan roda sampai akselerasi terkencangku. Pukul 08.00 upacara akan dimulai. Pak Bupati langsung menjadi Inspektur upacara, dan nantinya Beliu yang mengumandangkan suara kemerdekaan itu Proklasi dengan sentuhan gaya bungkarno sang Proklamator. Ditengah seriusku dengan Siping menuju pusat kota untuk menyaksikan The Freedome Day ini tiba-tiba, Sepedaku oleng tak tahu arah, dan pedal terasa berat. padahal waktu upacara sudah semakin dekat.
- " hah, ampun deh ban bocor. Apes bener!" kalehku
- Dadaku berkecamuk menghadapi itu. ingin rasanya cepat sampai tapi malah ada halangan. ingin marah tapi pada siapa???? waktu semakin sempit dan aku haru menuntun Siping mencari dokter Specialist ban. aku terus berjalan manysuri jaln dengan galau, hari kemerdekaan yang hambar. tak ada satu tukan tambal banpun hanya ada plangnya saja. mungkin mereka ikut bergembira meramaikan acara kemerdekaan ini. Semakin gelisalah aku.
- Ditengah perjalanan itu aku teringat mungkin perjuanganku untuk sampai tempat upacara. Namun jika dibandikan dengan meraka yang rela darahnya mengucur ditanah untuk tegaknya merah putih di Bumi Pertiwi ini sungguh sangat malu aku. Dengan terlintas pikiran itulah sangamatku tak padam ku ajak berlari Siping menysuru jalan-jalan kota Lumajang. tak peduli pelu menetes, merayap selurh tubuh membasahi baju seragam. aku terus berlari samapai di ujung permpatan aku bertemu kawan lama Jamal. Ia membantu bapaknya untuk usaha tambalban di pinggir jalan. wah, usahaku tak sia-sia.
- " Wah, kenapa kamu ki?"
- " Ini aku mau upacara memperingati hari Kemerdekaan kita, Tapi sial ban bocor mal."
- "Hm, sabar kawan. mana taruh disitu sepedamu, kau pakai sepedaku, nanti kau ambil disini. Sekarang tunjukan kecintaamu pada Republik ini. Dan aku akan bekerja dengan kemampuan terbaiku."
- "Terima Kasih Sobat, Aku berangakt dulu, dan titip Sepedaku ya."
- Senyumnya mereka dari Mulut jamal. Dia memang Sahabat terbaik. dan aku berfikir apa jadinya jika tak ada jamal mungkin aku tak bisa menunjukan kecintaanku pada Republik ini dan jamal telah menujukan perjuangan hidupnya sebagai tukang tambal ban dan Ia harus putus sekolah lantaran karean biaya, tapi semangatnya untuk belajar tak pernah pudar. dan dedikasi terbaiknya segai tambal ban sekarang ini hanya potongan kecil harapanya untuk merdeka mencari jalan terabaik dalam hidupnya meskipun pahitpu banyak dirasa. Dia tunjukan sebagai Dokter Ban yang berbakti pada orang tuanya, dan dedikasinya menjalani hidup, walau hanya sebagai Dokter Ban. Ia bekerja dengan penuh kesabaran dan kerja dengan kemampuan terbaik. dan aku bisa belajar dari Arti kemerdekaan yang ditunjukan oleh Jamal.
- Dan sepeda Jamal membantuku melanjukan perjalan. tapi waktu tak terkejar lagi. Jalanan Alun-alun sudah sepi ini menujukan Upacara dimulai. Aku sampai dengan penuh peluh ditubuh. Pak bupati sudah naik mimbar proklamasi sudah berkumandanng, aku galau mendengar dari kejahuan. dan ingin rasanya bebaris dengan teman-teman didepan. aku berada diluar pagar Alun-alun, tak ada barisan, tapi dari kejahuan aku saksikan Sang merah putih di kibarkan dangan semangat yang tetap menyala dala galau aku tegakan badanku diluar pagar. Aku arahakan hormatku ke Sang saka merah putih.......
- " Indonesia tanah air tanah tumpah darahku
- Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku
- Indonesia Kebangsaanku
- Bangsa dan tanah airku
- Marilah kita berseru Indonesia bersatu
- Hiduplah tanahku
- Hiduplah negeriku
- Bangsaku rakyatku semuanya
- Bangunlah jiwanya bangunlah badannya
- Untuk Indonesia raya
- Indonesia raya medeka, medeka
- Tanahku negeriku yang kucinta
- Indonesia raya medeka, medeka
- Hiduplah Indonesia raya"
Lagu kebangsaan itu terus bergema di dadaku, telingan, otakku, di jantung mengalir malalaui darahku, dan nafasku. Tiba-tiba muncul suatu pertanyaan dari dalik hatiku. Apa yang sudah kau berikan kepada bangsa ini? sungguh aku tersentak dengan itu pula. dan hari ini aku kembali ke dokter ban tapi dengan membawa suatu pertanyaan besar itu dan kapan pula kau bisa memberikan seasuatu untuk bangsaku, dan Aku akan terus menjadi Indonesia.
0 Response to "Kemerdekaan dan Dokter Ban"
Post a Comment