Mencari Masjid
Mencari Masjid
Suara seruan Illahi menggema di udara penuh dengan gagahnya pagi buta, membagunkan pria kecil berkuit hitam. Tanpa sadar Ia berjalan menuju tempat bersih diri atau kamar mandi. Mengucur deras air kran silver, diambilah air wudlu, yang membangunkan kesadarannya pada sang Illahi matanya semakin tajam, memekikan ke petangnya pagi.
Kemudian Dilangkahkan kaki kecilnya yang sampailah pada rumah kecil kuning dengan pagar hijau, ya itulah musholah kecil, satu diantara musholah-musholah di Bekasi. Meloncatlah menuju peribadatan yang nomer satu akan ditanyakan oleh Mungkar dan Nakir dalam kubur nanti, ya tepat sekali sholat yang akan membawa hidup pada kesejatian.
Rangakaian ibadah di laksanakan dengan penuh ke hikmatan sampai pada dzikir, dan di akhiri dengan bacaan “Allahumma sholli wasalim wabari’alai.” Turun dari musholah kecil itu, dengan keadaan yang gelap tetapi langit sudah di iringi dengan rona sinal orange membubung di timur, indah sekali sunset hari itu.
Seakan kerinduan semakin tak terbendung lagi niatan untuk mencari tempat teramat indah dalam mencari ketenangan yaitu masjid, Ia mulai berjalan mencari tempat tersebut, mengenakan senadal japit biru bertuliskan ‘Joger Jelek’ sebagai Alas kaki mungilnya. Lewat dia di pertiagaan dekat dengan kubangan lumpur yang telah diterjang air hujan semalam.
Dengan susah payah laki-laki kecil itu tetap berjalan, menyusuri jalan berkelok dengan iringan indah sampah-sampah disampingnya. Matanya membelalak digelapnya pagi yang masih dini. Terus menyusur dan menyusur, sampailah ditumpukan tupukan karung goni yang entah apa isinya, sampai terdengar suara rauangan 'Gubrak'
“her....her....”
“huk..huk....” Hati pria kecil itu tersetak keget, badanmya langsung gemetar tampak sadar matanya terbelalak, dikuti kakinya mualai mengeluarkan langakah serbu.
“hua…. Anjing…..”. Serunya tanpa sadar
“her..her..hok..hok.”
Anjing putih itu turun melompat dari tumpukan karung goni dan melayang di udara. Seperti Elang menerjang musuhnya tetapi ini anjing penjaga, mencium bau manusia.
Sektika itu pria kecil lari kalang kabut bukan kepalang.
“huah..tolong…tolong..tolong.” hiruk pikuk pagi yang belum terasa keramaian menyerbu, tak ada yang menghiraukanku di sini.
Ciuing..ciuing, sendal melayang lepas dari dua tapak mungil yang sedang mengeluarkan jurus kaki seribu itu. Tak peduli kubangan lumpur, air menggenang, batu kerikil sekalipun diterjang.
Nafas panjang terterhela, dan mulai menyempit. Seakan waktu di perlambat seperti di adegan-adengan film action. Jadi Slow motion….
Wer…wer…
“huah..hua…huah, tolong”.(Dibaca dengan Suara yang berat, besar, dan menggema).
Sampailah di ujung larinya yang penuh rasa kejut dari peristiwa yang hampir membuatnya mati diserbu oleh anjing-anjing sebutulnya tidak galak. Di sempat berpikir akan menyerah saat dikejar dalam kubangan lumpur itu. Tapi entah apa yang membuatnya tak menyerah.
“kenapa dek?” Tanya pria paruh baya yang mempunyai kios merah di ujung jalan itu, dan mungkin bisa di bilang pertigaan jalan kampung.
“Di....di..dikejar anjing, Pak.” Dengan nafas yang menyempit di jawab pertanyaan itu.
“jangan lari klo ada anjing malah tambah ngejar.”
“oh, gi..gi..gitu pak, huh...huh, maklum pak sa...saya orang baru disini pak, perantau da da...dari jawa.”dengan masih nafas yang tersengal-sengal.
“oo.., gitu ya dek?”
“iya, pak kenalkan na..nama saya Zidan pak”.sampil tersengal-sengal nafasnya pria kecil itu menjabat tangan penjual yang ada di ujung jalan ini.
“Abdul Khodir, saya juga perantua dari Lamongan Jawa Timur”.
“oo..Lamongan pak?”
“Saya juga dari Jawa Timur pak, Lumajang”.
“Ooo, Lumajang. Wes Suwe neng kene dek? ”
“mboten pak tasik seminggu teng mriki pak. ” keduanya bacakap dalam bahasa jawa, kerena sama-sama dari jawa timur mereka.
“oh iyo ulapo mrunu? Wong dalane becek ekah sampahe ngunu?”
“mau cari masjid pak. ya kemarin saya tanya sama kakaknya teman saya yang ada di kontrakan sebelah barat sama, katanya lewat sini pak”. Kata pria kecil itu.
“lebah baik sampean lewat sana saja mas Zidan ”. Di jawab dengan tawa kecil yang mengembang pada bibirnya.
“Ini minumnya mas.”
“Waduh saya tidak bawah uang ini pak.”
“Oo, tidak usah. Saya ikhlash kok”
Setelah tahu namanya sembari menenangkan kondisi badanya yang masih tersentak oleh kejaran itu,Ia menyeruput sejenak teh hangat yang diberi oleh pak Khodir itu.
“Sekali lagi terima kasih ya pak. Terima kasih pak khodir.”
“Sama-sama”.
“ya, sudah saya jalan lewat sana saja,emh..., sendal saya masih ketinggal disana dekat genangan lumpur di anjin tadi pak.”
“Diambil nanti siang saja, kalau agak siangan kan gak takut lagi,hehe.”Dijawab dengan senyum yang ringan.
***
Kemudian ia berjalan lagi menyusiri jalan yang ada di sebelah timur dari jalan yang di lalui sebelumya. Terlihat jalan yang basah terkena air hujan tadi malam yang sempat membuatnya tidak bisa tidur lantaran halilintar yang saling bersutan layaknya suara bom perang dunia ke-3. Suara ayam mengiring langkah kakinya.
“Huh..huh, kok sakit ya?” gumamnya kecil.
Dilihatlah kaki kecilnya, ternyata ada 3 luka kecil yang nongkrong pada kakinya, dan disertai pula dengan tanah lumpur yang masuk pada lukanya, tapi itu semua tidak munyurutkan semangatnya untuk mecari masjid yang ingin dia cari.
Dia berjalan dengan menahan rasa pedih di kakinya. Tapak kakinya mulai merasa ngilu.
“tak apalah ini tidak jadi soal, toh masjid semakin dekat.” Rintihnya dalam hati. Matahari mulai tersenyum di ufuk, seolah ingin membantunya di tengah gelam gulita dalam perjuanganya mencari masjid.
Tak beselang lama ada laki-laki tua, yang sedang duduk di kursi reot dibawah pohon nangka yang rimbun. Sangking rinbunya kesejukan pagi terpancar dari situ. Ia menghampiri laki-laki tua itu.
“permisi pak, mau numpang tanya ini pak?”
“iya ada apa Mas?”
“e...e.., masjidnya disini dimana pak?”
“O..masjid? itu Mas di balik tembok beton itu. Mas”
matanya langsung bersinar melihatnya,tetapi tidak kelihatan seperti masjid tetapi mirip dengan penjara yang bertebok beton tebal.
“Wah, terima kasih ya pak.”
“Sama-sama dek. Kelihatanya adik baru disini?”
“Iya pak.”
“Kuliah apa kerja mas?”
“Kerja ini pak. Tapi masih belum ada lowongan pekerjaan ini pak.”
“hem..., begitu ya”
“Tinggal dimana mas?”
“Di sana di kontrakanya pak Rohman itu pak.”
“Oh, disitu. Sudah berapa lama mas di situ?”
baru 1 minggu pak. Oh, iya pak perkenalkan saya Muhammad Zidan Rahmadi pak panggil saja Zidan.”
“Saya Jaelani, tukang bersih-bersih di masjid.”
“wah senang sekali bisa berkenalan dengan bapak.” Wajah sumringah ketika mendengar Ia adalah pengurus masjid.
Percakapanpun terjadi antara Mereka. Dan Zidan tak sadar Kalau luka dikakinya mengeluarkan darah yang mengucur. Pak Jaelani melihatnya merasa sangat Iba,Langsuang Ia ambilkannya obat merah dan perban dari dalam rumah mungil berdinding separuh gedong, kemudian membersihkan luka dengan revanol yang dibawanya bersama kotak obat berwarna putih itu.
“Terimakasih pak atas bantuan bapak, saya tidak bisa membalas apa-apa pak. hanya bisa berterima kasih saja.”
“Tidak usah segitunya Mas, sudah kewajiban saya membantu mas, Biarkan Allah yang membalasnya mas. Apalagi kita sesama Muslim?”
“Saya hanya bisa mendoakan saja Pak, Semoga Allah membalas kebaikan bapak.”
“Amin, hm.., ngomong-ngomong Mas Zidan sudah sarapan?”
“waduh tiadk perlu repot segala, saya sudah merepotkan bapak. Masih merpotkan lagi.”
“Ah,tidak apa-apa kebetulan istri saya baru selasai masak jadi mumpung masih hangat ini.”
“Wah, saya sungguh tidak enak pada bapak.”
“Ah, sudahlah mas Zidan lagi pula inikan Rezeki Dari Allah, klo tidak mubdzir Ini Mas.”
Pak Jaelani pun memepersilakan masuk kedalam rumahnya yang mungil itu. Istrinya menyambutnya dengan senyum yang ramah, walaupun sudah terlihat keriput melanda pada wajahnya, tapi nampak berkas-berkas kecantikan yang terpancar dari dalam hatinya dan alur wajahnya. Zidan pun masuk menuju meja makan beralaskan taplak biru mudah. Menggambarkan suasana meja yang rapi.
“ Seadanya ya mas Zidan, adanya hanya ini.”
“waduh, ini sudah mewah pak, terima kasih lho Pak.”
“Sudah makan saja, kalau perlu nambah yang banyak, jangan sungkan-sungkan.”
Tanpa berfikir panjang Zidan menyamtap makananya bersama Pak Jaelani.
Setelah sarapan pagi yang sungguh lezat, dengan masakan ala Jawa Barat yang belum pernah Ia santap, Ia meminta izin untuk melihat masjid yang ada didepan rumah Pak Jaelani tersebut.
“Mau saya Antar Mas Zidan?Sekalian lihat-lihat. Soalanya saya mau membersihkan masjidnya”
“Wah, kebetulan sekali ini Pak, Boleh saya membantunya? Anggap saja Sebagai rasa terima kasih saya Pak.”
“tidak, apa biar saya sendiri Mas Zidan.”
“ah, tidak apa Pak.”
“Mari Mas Zidan.” Ajaknya dengan penuh riang.
Zidan pun pamit sekalian pada Ibu Jaelani. Ia membalas dengan senyum yang ramah sama seperti Ia mempersilakan makan dirumahnya. Rasa bahagia di temukan dalam diri Zidan. Karena Allah menujukan jalan untuk pergi ke masjid dan bisa berkenalan dengan Pak Jaelani yang baik hati itu. Ditapakanlah yang masih sedikit sakit itu dengan sandal jepit warna hijau yang dipinjamkan oleh Pak Jaelani.
***
Bersambung...
2 Responses to "Mencari Masjid"
bisakah menghubungi saya untuk interview pekerjaan Operator Warnet & Game Online?
021 92149198
alamatnya bapak dimana?
Post a Comment